Selasa, 11 Desember 2012

BANGKALAN

Bangkalan, Pintu Gerbang Wisata Madura


Mengawali tahun 1994, nampaknya Kabupaten Dati II Bangkalan menjadi tumpuan bagi wisatawan mancancgara bahkan boleh kita sebut bahwa Bangkalan merupakan pintu gcrbangnya pariwisata pulau garam ini. Pulau Madura yang terdiri empat Kabupaten yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep ini mempunyai potensi pariwisata yang berbeda-beda, namun juga memiliki khas budaya yang sama yaitu kerapan sapi.
Di Kabupaten Bangkalan, wisata tradisional kerapan sapi digelar setiap tahun dan dimulai pada bulan Agustus hingga September. Dan untuk tiga kabupaten lainnya pada bulan ini juga menyelenggarakan wisata tradisional yang sama secara serentak, untuk final kerapan sapi akan dipusatkan di Kabupaten Sumenep pada bulan Oktober alau sebagai penutup wisata tradisional kerapan sapi.
Kabupaten Bangkalan letaknya tidak jauh dari kota Pahlawan Surabaya, berjarak hanya sekitar 25 km mudah ditempuh melalui penyeberang ferry dengan biaya  penyeberangan Rp 350,- per orang. Untuk menuju pusat kota Bangkalan dilanjutkan dengan angkutan penumpang umum bus atau kendaraan kecil.
Sesampai dipelabuhan Kamal Bangkalan, wisatawan dapat berbelanja berbagai macam souvenir khas Madura, mulai pecut, udeng, batik serta hasil kerajinan lainnya.
Bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara yang sifatnya rombongan, yang ingin mcngunjungi Bangkalan sekaligus menyaksikan wisata tradisional kcrapan sapi tidak pada musimnya, dapat pesan terlebih dahulu kepada Pemda Bangkalan maupun Biro Perjalanan Umum (BPU), untuk menyewa kerapan sapi dan digelar pada saat kedatangan wisatawan rombongan tersebut.
Pada bulanPebruari 1994 ini, tampak cukup banyak wisatawan mancanegara yang dating ke Bangkalan untuk menyaksikan wisata tradisional kerapan sapi. Bahkan sekitar 200 wisatawan manca negara dengan kapal pesiar yang mcrapat di pelabuhan Gapura Surya Surabaya, telah melakukan city tour ke Bangkalan untuk menyaksikan kerapan sapi tersebut, rombongan wisatawan manca Negara ini sebagaian besar berasal dari Jerman dan dipandu langsung oleh Orient Express Surabaya.
Bahkan pada bulan yang sama, yaitu sekitar 85 orang peserta kejuaraan gulat Asian Oceania II di Surabaya dari scbelas Negara juga menyempatkan diri untuk menyaksikan obyek wisata tradisional kerapan sapi yang digelar oleh Pemda Bangkalan

ASAL MULA MAKAM AER MATA

Alkisah, ... tersebutlah pada jaman dahulu, pada jaman pemerintahan Sultan Agung di Mataram. Pada suatu hari beliau kedatangan rombongan dari Sampang Madura yang dipimpin oleh Panembahan Juru Kiting. Maksud dan tujuan kedatangannya adalah untuk menghadapkan seseorang yang bernama Raden Praseno yaitu salah satu putra Raja Arosbaya yang bernama Raden Koro yang bergelar Pangeran tengah.
Setelah maksud kedatangannya dijelaskan kepada Sultan agung tentang asal usul R. Praseno, kemudian beliau merasa sangat iba dan menaruh rasa sayang kepada R. Praseno. Hal ini disebabkan antara lain karena ia telah ditinggalkan oleh ayahnya ketika ia masih kecil.
Karena itulah kemudian R. Praseno mendapat kepercayaan dari Sultan agung dan diangkat untuk menjadi raja dan diberi kekuasaan di Arosbaya, berkedudukan di Sampang dengan mendapat gelar Pangeran Cakraningrat I menggantikan pamannya yang bernama Pangeran Mas.
Beliau mempunyai seorang permaisuri yang bernama Syarifah Ambami.
Walaupun P. Cakraningrat I ini memerintah di Madura, tetapi beliau banyak menghabiskan waktunya di Mataram, membantu Sultan Agung. Sedang pemerintahan di Madura, selama beliau berada di Mataram, tetap berjalan lancar.
Melihat keadaan yang demikian, istrinya Syarifah Ambami merasa sangat sedih. Siang malam beliau menangis meratapi dirinya.
Akhirnya beliau bertekat untuk menjalankan pertapaan. Kemudian bertapalah beliau disebuah bukit yang terletak di daerah Buduran Arosbaya.
Dalam tapanya itu beliau senantiasa memohon dan berdo’a kepada Yang Maha Kuasa, semoga keturunannya kelak sampai pada tujuh turunan dapat ditakdirkan untuk menjadi penguasa pemerintahan di Madura.
Dikisahkan pula bahwa dallam pertapaannya itu beliau bertemu dengan nabi Haidir AS. Dari pertemuannya itu pulalah beliau memperoleh kabar bahwa permohonannya insyaallah dikabulkan.
Betapa senangnya hati beliau, akhirnya beliau bergegas pulang kembali ke Sampang.
Selang beberapa lama kemudian P. Cakraningrat I datang dari Mataram .
Diceritakanlah semua pengalamannya semenjak suaminya berada di Mataram, bahwa beliau menjalankan pertapaan dan diceritakan pula hasil pertapaannya kepada P. Cakraningrat I.
Setelah selesai mendengarkan cerita istrinya itu, P. Cakraningrat I bukanlah merasa senang, akan tetapi beliau merasa bersedih dan kecewa terhadap istrinya, mengapa beliau hanya berdo’a dan memohon hanya sampai tujuh turunan saja.
Melihat kekecewaan yang terjadi pada diri P. Cakraningrat I ini, beliau merasa berdosa dan bersalah terhadap suaminya.
Setelah P. Cakraningrat I kembali ke Mataram, beliau pergi bertapa lagi ketempat pertapaannya yang dulu. Beliau memohon agar semua kesalahan dan dosa terhadap suaminya diampuni.
Dengan perasaan sedih beliau terus menjalani pertapaannya. Beliau selalu menangis, menangis dan terus menangis, sehingga air matanya mengalir membanjiri sekeliling tempat pertapaannya, sampai beliau wafat dan dikebumikan ditempat pertapaannya, yang sampai sekarang kita kenal dengan nama : MAKAM AER MATA

ASAL MULA AROSBAYA

 
 Legenda yang kuat mengakar di masyarakat Kecamatan Arosbaya, muasal nama Arosbayabermuara dari keberadaan Buju' Resbejeh, yakni asta keramat yang lokasinya berada di pemakamanumum Morouk di Kampung Pandian, Desa/Kecamatan Arosbaya. Resbejeh sendiri merupakan dialekmasyarakat Madura untuk mengucap nama Arosbaya.Syandan, makam tersebut diyakini merupakan kuburan dari R. Abdul Wahid Trunokusumo. Beliaumerupakan penyiar Islam yang berasal dari Solo. Itu sebagaimana disampaikan oleh juru kunci Buju'Resbejeh, Ismail.Diceritakan lebih detail oleh pria yang kini berusia 39 tahun ini, berdasar penuturan yang telahdiyakini kebenarannya oleh masyarakat Arosbaya, kali pertama menginjakkan kaki di Madura Barat,R. Abdul Wahid Trunokusumo langsung berziarah ke sebuah makamseorang wanita. Lokasinya saatini persis berada disebelah barat Buju' Resbejeh. Hingga kini, makam dimaksud masih terpeliharadan tidak diketahui identitasnya. µKemudian setelah meninggal, beliau dimakamkan di lokasi yangsekarang ini banyak disebut sebagai Buju' Resbejeh," tutur Ismail yang kini juga berprofesi sebagaipandai besi ini. Tentang muasal nama Arosbaya sendiri, pria yang juga seorang guru ngaji inimerujuk dari cerita dari mulut ke mulut yang didengar dari tetua kampung setempat.Konon, cerita Ismail, raja setempat yang oleh masyarakat Arosbaya dikenal bernama Gusteh Nyo'on,pemah bermimpi bahwa di makam R. Abdul Wahid Trunokusumo tersebut berpenghuni seekor buayaputih. Buaya dimaksud dalam wujudnya mempunyai sebilah keris yang terselipdi pinggangnya."Katanya, bhejeh pote nyongkel kerres. Akhimya padanan dari kerres dan bhejeh ter sebut, digabung jadi satu dan menjadi nama Resbejeh. Dalam dialog Bahasa Indonesia, menjadi Arosbaya," terangIsmail.Dari versi cerita warga yang lain, Ismail juga mengutip sebuah cerita tentang muasal nama Resbejeh.Meski agak serupa, namun sama sekali tak sama. Dimana, ujar Ismail, lewat mimpinya juru kunciBuju' Resbejeh sebelumnya yang bemama Abdur Rasyid pernah bermimpi bahwa disekitar Buju'Resbejeh tersebut ada penampakan berwujud buaya putih yang ekornya berupa sebilah keris."Dua versi cerita tersebut sama-sama diyakini kebenarannya oleh masyarakat sekitar sebagai muasalnama Resbejeh atau Arosbaya," tutur Ismail. Sebagai makam yang dikeramatkan oleh warga sekitar,Buju' Resbejeh sudah lama dikenal memiliki karomah. Beberapa di antaranya diakui sebagai lokasiyang mustajabah untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Namun, serupa beberapamakam aulia' lainnya, di Buju' Resbejeh jugadikenal sejumlah 'ritual' khusus kala berdoa.Dalam hal ini, sang juru kunci Ismail kembali membeber fakta yang diperoleh dari mimpinya.Dijelaskan, dalam sebuah tidurnya, pria yang telah dikarunia dua orang anak ini mengaku seakanberada di sekitar Buju' Resbejeh. Saat hendak masuk ke dalam bangunan makam, dirinya disambutoleh salah seorang yang berpakaian serba putih. Sayang, saat itu dirinya tak bisa melihat wajah sangpenyambut yang di kepalanya dibelit sorban putih tersebut. Namun diyakini yang bersangkutanadalah R. Abdul Wahid Trunokusumo yang dimakamkan di Buju' Resbejeh. Sementara dibelakangnya berdiri banyak pengikutnya yang berpakaian juga serba putih dengan cadar ala ninja

ASAL MULA SOCAH

Wes wes dari pada penasaran, aku kasih tau dulu arti katanya dulu. Socah, artinya adalah mata. Ini adalah bahasa Madura yang cukup halus dalan kasta. Kenapa di pakai dengan kata2 yang halus? Ini ada kaitannya dengan asal usul desa ini. Sebelum itu yuks kita lebih tau desa Socah itu sendiri.


Desa socah adalah sebuah desa kecil yang terletak 15 menit dari kota Bangkalan dan pelabuhan Kamal. Disini tempat yang enak untuk dikungi, kenapa? Karena disini dekat dengan laut, sehingga pemandangan disini sangatlah bagus. Ditambah lagi banyak tempat makanan yang enak yang tersedia disini. Tapi rada mahal sih, bis yang di jual adalah sari laut so pasti harganya selangit buat orang2 yang kayak aku. Hehehe.

Aku akuin sih tempat disini enak banget, damai rasanya klo disini. Oia, disini juga ada banker lho.. Buat tempat perang gitu, huh seru, aku pernah dateng kesana. Jadi semangat buat ngebayangin masa lalunya seperti apa. Mantep deh pokoknya.

Di sini juga kita bisa liat kapal2 besar yang mau landas dari pelabuhan ujung. Kapalnya gede2, kapal kargo sih soalnya. Trus juga ada Mercusuar yang biasanya di buat tempat rekreasi dan tempat pacaran. (Aku juga pernah pacaran disana euy… romantic banget.. wkwkwkwk.. first love mamen…). Untuk masuk ke tempat ini cukup murah kok. Cuman Rp. 500,00 aja dah bisa masuk trus naik ke mercusuarnya, nah liat tuh pelosok Madura dari sini. (Lebay… hehehe)

Apalagi ya? Oke, kita back to nature, ups keliru ding… back to histori…
Asal muasalnya nama desa ini adalah karena dulu pangeran Jokotole pulang membawa istrinya karena telah memenangkan perang, tapi saying istrinya buta. Tapi namanya pangeran jokotole ini berhati besar makanya diterima aja, gak tau deh klo aku yang nerima,. Hehehe. Nah singkat cerita, istri P. Jokotole ini cuca muka disini, eh ternyata eh ternyata istrinya yang buta ini bisa liat lagi sehabis cuci muka. Yah jadilah desa ini dinamakan desa socah yang artinya mata dalam bahasa maduranya. Seru juga kan ceritanya? Hehehe…

ASAL USUL BANGKALAN

Asal Usul Kabupaten Bangkalan


Bangkalan berasal dari kata “bangkah” dan ”la’an” yang artinya “mati sudah”. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Raja Majapahit yaitu Brawijaya ke V telah masuk Islam (data kekunoan di Makam Putri Cempa di Trowulan, Mojokerto). Namun demikian siapa sebenarnya yang dianggap Brawijaya ke V ini ?. Didalam buku Madura en Zijin Vorstenhuis dimuat antara lain Stamboon van het Geslacht Tjakradiningrat.

Dari Stamboon tersebut tercatat bahwa Prabu Brawijaya ke V memerintah tahun 1468–1478. Dengan demikian, maka yang disebut dengan gelar Brawijaya ke V (Madura en Zijin Vorstenhuis hal 79) adalah Bhre Krtabhumi dan mempunyai 2 (dua) orang anak dari dua istri selir. Dari yang bernama Endang Sasmito Wati melahirkan Ario Damar dan dari istri yang bernama Ratu Dworo Wati atau dikenal dengan sebutan Putri Cina melahirkan Lembu Peteng. Selanjutnya Ario Damar (Adipati Palembang) mempunyai anak bernama Menak Senojo.

Menak Senojo tiba di Proppo Pamekasan dengan menaiki bulus putih dari Palembang kemudian meneruskan perjalannya ke Barat (Bangkalan). Saat dalam perjalanan di taman mandi Sara Sido di Sampang pada tengah malam Menak Senojo mendapati banyak bidadari mandi di taman itu, oleh Menak Senojo pakaian salah satu bidadari itu diambil yang mana bidadari itu tidak bisa kembali ke kayangan dan akhirnya jadi istri Menak Senojo.

Bidadari tersebut bernama Nyai Peri Tunjung Biru Bulan atau disebut juga Putri Tunjung Biru Sari. Menak Senojo dan Nyai Peri Tunjung Biru Bulan mempunyai anak Ario Timbul. Ario Timbul mempunyai anak Ario Kudut. Ario Kudut mempunyai anak Ario Pojok. Sedangkan di pihak Lembu Peteng yang bermula tinggal di Madegan Sampang kemudian pindah ke Ampel (Surabaya) sampai meninggal dan dimakamkan di Ampel, Lembu Peteng mempunyai anak bernama Ario Manger yang menggantikan ayahnya di Madegan Sampang. Ario Manger mempunyai anak Ario Pratikel yang semasa hidupnya tinggal di Gili Mandangin (Pulau Kambing). Dan Ario Pratikel mempunyai anak Nyai Ageng Budo.

Nyai Ageng Budo inilah yang kemudian kawin dengan Ario Pojok. Dengan demikian keturunan Lembu Peteng menjadi satu dengan keturunan Ario Damar. Dari perkawinan tersebut lahirlah Kiai Demang yang selanjutnya merupakan cikal bakal Kota Baru dan kemudian disebut Plakaran. Jadi Kiai Demang bertahta di Plakaran Arosbaya dan ibukotanya Kota Baru (Kota Anyar) yang terletak disebelah Timurdaya Arosbaya. Dari perkawinannya dengan Nyai Sumekar mempunyai 5 (lima) orang anak

Artikel ini berasal dari Asal Usul Kabupaten Bangkalan - Madura | Berbagi Seputar Pulau Madura | TreTans
Kunjungi http://www.tretans.com untuk Artikel lainnya dan sertakan link TreTans.com jika mengutip. Mator Sakalangkong

BUDAYA MADURA

Carok / Clurit Bentuk Perlawanan Rakyat Jelata

Carok berasal dari bahasa Kawi Kuno yang berarti Perkelahian. Secara harfiah bahasa Madura, Carok bisa diartikan Ecacca erok-orok (dibantai/mutilasi…?). Menurut D.Zawawi Imron seorang budayawan berjuluk Clurit Emas dari Sumenep Carok merupakan satu pembauran  dari budaya yang tidak sepenuhnya asli dari Madura. Carok merupakan putusan akhir atau penyelesaian akhir sebuah permasalahan yang tidak bisa diselesaikan secara baik-baik atau musyawarah dimana didalamnya terkandung makna mempertahankan harga diri.

Carok juga selalu identik dengan pembunuhan 7 turunan atas nama kehormatan. Tembeng Pote Matah, Angoan Pote Tolang (dari pada putih mata lebih baik putih tulang=dari pada menanggung malu, lebih baik mati atau membunuh). Dendam yang mengatasnamakan Carok ini bisa terus berlanjut hingga anak cucunya. Ibarat hutang darah harus dibayar darah.

Carok juga dilakukan demi mempertahankan harga diri. Misalnya istri diambil orang, maka carok merupakan putusan atau penyelesaian akhir yang akan dilakukan. Mereka akan saling membunuh satu dengan yang lain. Dan uniknya, bagi keluarga yang mengambil istri orang, maka jika dia terbunuh, tak satupun keluarga korban akan menuntut balas pembunuhan tersebut karena mereka memandang malu jika keluarganya sampai mengambil istri orang. Namun sebaliknya, apabila yang terbunuh adalah pihak yang punya istri, maka yang terjadi akan muncul dendam 7 turunan.

Pelaku Carok merupakan pelaku pembunuhan yang jantan atau sportif. Jika mereka telah membunuh, maka ia akan datang ke kantor polisi dan melaporkan dirinya bahwa ia telah membunuh orang. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pembunuh kepada masyarakat sekaligus sebagai bentuk memohon perlindungan hukum. Meski beberapa kasus juga kerap terjadi, mereka menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh lawannya, atau bias pula pelaku yang membunuh namun yang masuk penjara adalah orang lain, istilahnya membeli hukuman. Tentunya hal yang terakhir ini harus ada kompensasinya, yakni si pelaku harus memeberikan semua biaya hidup pada keluarga orang yang telah bersedia masuk penjara atas namanya.

KEJADIAN DI BANGKALAN

sekitar 1000 lebih mercon berukuran besar dan mercon Sreng dor diamankan polisi dari rumah Ny Sila (40) di desa Bilaporah kecamatan Socah kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Pemilik rumah berhasil kabur, saat polisi tiba di lokasi.
Penemuan ribuan mercon itu berawal ketika polisi melakukan patroli di kawasan Stadion Bangkalan. Pada saat itu, Basri tengah menyulut mercon ukuran skala sedang. Melihat anak kecil menyulut mercon, polisi kemudian mengintrogasinya dan menanyakan asal usul mercon yang disulutnya. “Berangkat dari informasi itulah kemudian kita melakukan penggerebekan,” terang Kapolres Bnagkalan, AKBP Endar Priantoro melalui  Kasat Reskrim, AKP Muhammad Lutfi, Selasa (14/8/2012) siang
Dijelaskan Lutfi, namun setelah dilakukan penggerebekan, pemilik rumah berhasil kabur. “Saat kami grebek, tidak ada seorang pun di rumah itu. Belum dapat dipastikan apakah perakitannya di situ atau hanya menyimpan saja,” terang Lutfi panggilan akrabnya Kasat reskrim yang baru ini.
Petugas akhirnya memanggil kepala desa setempat untuk dimintai keterangan dan diketahui bahwa pemilik rumah itu adalah Ny Sila.
Ribuan petasan yang terdiri dari ratusan sreng dor lengkap dan tanpa lidi, ratusan petasan glondongan dari ukuran kecil, sedang, hingga sebesar lingkaran piring makan, akhirnya dimusnahkan di Lapangan Tembak Polres Bangkalan.
”Semua bubuk mesiunya kurang lebih 5 kilogram. Kita keluarkan lalu direndam dengan air. Tapi yang ukuran paling besar belum diberi mesiu dan sumbu,” paparnya.
Ia menambahkan, kegiatan perakitan mercon dalam jumlah besar sangat beresiko. Apalagi dilakukan di dalam rumah. “Selain itu juga melanggar Undang-undang Darurat nomer 12 tahun 1951 pasal 1 ayat 1 terkait kepemilikan dan penyimpanan bahan peledak,”